Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

June 05, 2008

REZEKI TAK DIDUGA

BY EINDHIE
“ada apa ya bu?”
“ada honor untuk kamu”
“honor dalam rangka kegiatan apa bu?”
“mardi pernah kan ngisi acara pelatihan kepenulisan bagi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa PPA dan BBM?”

Pagi itu saya sedang duduk-duduk santai dengan teman di fakultas. Tiba-tiba ibu ida memanggil saya dan meminta saya untuk datang ke ruangannya.
“ada apa ya bu?”
“ada honor untuk kamu”
“honor dalam rangka kegiatan apa bu?”
“mardi pernah kan ngisi acara pelatihan kepenulisan bagi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa PPA dan BBM?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, saya berpikir sebentar untuk mengingat-ngingat, apakah pernah saya diundang menjadi pembicara di acara tersebut. Jangan-jangan, ibu ida ini salah orang. Masak iya mahasiswa pernah memberikan materi pelatihan sesama mahasiswa. Apalagi materinya tentang motivasi dan teknik menulis karangan ilmiah. Memang sich, saya pernah menjuarai beberapa even seperti lomba karya tulis ilmiah.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya menjawab pertanyaan bu ida:
“pernah bu!”
“nah, kegiatan itu pernah kita buat SPJ-nya dan mardi mendapatkan honor untuk itu.”
“wah, benar-benar tak disangka. Terima kasih banyak bu!”
“sama-sama”
Kami pun pergi ke dekanat untuk menandatangani SPJ tersebut. Sesampai di situ, kami langsung menuju ruangan kemahasiswaan FISIP dan saya pun langsung dipersilahkan duduk oleh ibu ida.
“nah, ini form yang mesti mardi isi.”
Saya pun melihat terlebih dahulu isi dari form tersebut. Setelah memahami isi form tersebut, langsung saya tanda tangani.
“nah, ini amplopnya mardi. Semoga ada manfaatnya ya.”
“insyallah. Terima kasih ya bu.”
Setelah itu saya langsung meninggalkan ibu ida dengan SPJ-nya. Dalam hati saya bergumam, hari ini memang mengejutkan, bagaimana tidak, dikala aku tidak memiliki sepeser pun uang di dompet hari ini, tiba-tiba ada rezeki datang tak terduga. Terima kasih ya Allah! Senyuman manis tersungging di bibir sembari meninggalkan dekanat FISIP.


May 23, 2008

MENATAP BAYI

Pernahkah anda menatap bayi sedang tidur di ayunan atau tempat tidur? Saya katakan menatap, bukan melihat. Jika anda pernah menatapnya, apa yang ada di pikiran anda? Bisa jadi jawabannya akan berbeda-beda. Namun saya ingin kita satu suara untuk menjawabnya (anda boleh setuju atau tidak setuju).

Di dalam pikiran kita, ada sebuah ungkapan setelah menatap seorang bayi yang sedang tidur. Anak ini benar-benar tidak berdaya dan tidak berdosa. Keluguan seorang anak manusia yang tidak memiliki prasangka. Bebas dari nafsu angkara murka. Kita juga pernah mengalami hal itu. Namun mengapa sekarang kita menjadi manusia yang sangat berbeda jauh?!




Pernahkah anda menatap bayi sedang tidur di ayunan atau tempat tidur? Saya katakan menatap, bukan melihat. Jika anda pernah menatapnya, apa yang ada di pikiran anda? Bisa jadi jawabannya akan berbeda-beda. Namun saya ingin kita satu suara untuk menjawabnya (anda boleh setuju atau tidak setuju).

Di dalam pikiran kita, ada sebuah ungkapan setelah menatap seorang bayi yang sedang tidur. Anak ini benar-benar tidak berdaya dan tidak berdosa. Keluguan seorang anak manusia yang tidak memiliki prasangka. Bebas dari nafsu angkara murka. Kita juga pernah mengalami hal itu. Namun mengapa sekarang kita menjadi manusia yang sangat berbeda jauh?!

Bayi seperti kertas kosong yang putih bersih tak berbekas belum ternoda oleh noktah hitam atau merah. Siapapun memandangnya akan merasa sejuk dan hilanglah rasa penat sehabis kerja atau kuliah maupun aktivitas rutinitas keseharian. Kelucuannya, keimut-imutannya, matanya yang jernih, kulitnya yang halus, dan tangisannya yang memecah keheningan malam membangunkan orang tuanya untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kita akan merenungi masa lalu ketika kita masih bayi dan kanak-kanak. Pada waktu itu kita tidak berdaya sama sekali. Kita sangat membutuhkan uluran tangan orang lain yaitu, orang tua kita sendiri! Ketika kita menangis, ibu kita datang tanpa memperdulikan ia sedang apa atau sesibuk apapun. Seketika itu juga, ia menyusui kita dan memeriksa apakah kita pipis atau BAB. Dengan kasih sayangnya kita disusui dan kitapun dibelainya dengan lembut tanpa memperdulikan kesusahan yang dialaminya saat itu. Orang tua kita tidak pernah mengeluh untuk menyusui kita!

Orang tua kita tidak meminta bayaran ketika kita disusui, membersihkan popok, memandikan kita, dan melindungi kita dari sengatan matahari, dinginnya malam, dan dari nyamuk malaria. Saat itu kita menjadi makhluk yang paling egois dan tidak mau tahu kesusahan yang dihadapi oleh orang tua kita. Kita hanya tahu kebutuhan kita terpenuhi.

Kita disusui paling lama dua tahun bahkan lebih. Kita juga terus dibina dan didoakan semoga menjadi anak yang saleh dan saleha. Anak yang cerdas dan taat beragama. Anak yang selalu berbuat baik dan patuh kepada orang tuanya. Anak yang cinta kepada tanah airnya.

Dulu kita masih bayi. Kemudian berkembang menjadi anak sekolah dasar. Naik lagi, anak sekolah menengah pertama. Terus, anak sekolah menengah atas, dan lagi menjadi anak kuliahan, dan seterusnya. Apakah kita masih seperti orang yang tidak memiliki dosa atau menyadari bahwa kita adalah pendosa?

Baik-buruknya kita tergantung oleh bimbingan orang tua. Orang tualah yang menjadikan kita islam yang taat, yahudi, nasrani, atau majusi. Orang tua adalah tangan pertama yang mendidik kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Masa kanak-kanak merupakan masa imitasi atau meniru-niru karena sikap dan pikiran kritis belum berkembang dengan baik.

Ternyata, yang membuat kita manjadi baik atau buruk bukan hanya dari orang tua. Pengaruh itu datang juga dari lingkungan sebaya dan media massa cetak maupun elektronik. Pengaruh media massa saat ini lebih kuat dari orang tua. Maka orang tua yang tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya, siap-siap saja menemui karakter anarkhis dari mereka.

Bagaimana dengan orang tua yang sibuk dan supersibuk? Terserah mereka dan mereka punya otak untuk berpikir bagaimana mengakali untuk membagi waktu antara mengasuh anak dan bekerja. Itu semua tergantung dari kemauan dan tekad yang kuat untuk mendidik generasi yang saleh dan cerdas. Orang tua yang menanam benih baik dan berkualitas akan menikmati hasil yang sama. Sebaliknya, orang tua yang cuek dan putus asa akan menikmati hasil yang sepadan.

Namun saya ingin kita semua mengoreksi diri. Mengoreksi tentang dosa yang selama ini kita lakukan. Padahal dulu kita adalah makhluk tanpa dosa dan lugu. Sekarang kita menemui banyak sekali tantangan dan hambatan. Mari kita mengoreksi diri untuk selalu berbenah diri menjadi pribadi yang paripurna. Kita bukan malaikat yang suci, tapi kita bisa melebihi malaikat. Setiap kejahatan haruslah dibarengi dengan kebaikan bahkan lebih banyak kebaikan ketimbang kejahatan. Diri kita seperti kaca jendela rumah yang bersih dan bening. Seiring bertambahnya waktu, jendela tersebut akan berdebu-debu oleh polusi. Bayangkanlah jendela yang tidak pernah dibersihkan…lama-lama jendela tersebut akan menjadi gelap dan sangat kotor. Jendela yang penuh dengan debu, akan menutupi “cahaya” yang ingin menyinari seisi rumah agar terbebas dari “virus” maupun “bakteri” penyakit. Maka, rajin-rajinlah kita membersihkan jendela tersebut, agar sinar matahari yang cerah bisa memasuki rumah kita.

Sekali-kali maupun seringkali, cobalah untuk menatap seorang bayi ketika mereka tidur di ayunan atau tempat tidur. Terserah, apakah bayi itu anak anda, anak paman atau bibi anda, anak tetangga, anak saudara laki-laki atau perempuan, atau anak yang anda temui di depan rumah anda…perhatikan dan tatap mereka lebih dalam. Setelah itu, cobalah untuk merenunginya sedalam-dalam yang anda mampu. Selamat mencoba dan merenung!


Putih Tak Berdosa

Pernahkah anda menatap bayi sedang tidur di ayunan atau tempat tidur? Saya katakan menatap, bukan melihat. Jika anda pernah menatapnya, apa yang ada di pikiran anda? Bisa jadi jawabannya akan berbeda-beda. Namun saya ingin kita satu suara untuk menjawabnya (anda boleh setuju atau tidak setuju).

Di dalam pikiran kita, ada sebuah ungkapan setelah menatap seorang bayi yang sedang tidur. Anak ini benar-benar tidak berdaya dan tidak berdosa. Keluguan seorang anak manusia yang tidak memiliki prasangka. Bebas dari nafsu angkara murka. Kita juga pernah mengalami hal itu. Namun mengapa sekarang kita menjadi manusia yang sangat berbeda jauh?!

Menatap Bayi

Pernahkah anda menatap bayi sedang tidur di ayunan atau tempat tidur? Saya katakan menatap, bukan melihat. Jika anda pernah menatapnya, apa yang ada di pikiran anda? Bisa jadi jawabannya akan berbeda-beda. Namun saya ingin kita satu suara untuk menjawabnya (anda boleh setuju atau tidak setuju).

Di dalam pikiran kita, ada sebuah ungkapan setelah menatap seorang bayi yang sedang tidur. Anak ini benar-benar tidak berdaya dan tidak berdosa. Keluguan seorang anak manusia yang tidak memiliki prasangka. Bebas dari nafsu angkara murka. Kita juga pernah mengalami hal itu. Namun mengapa sekarang kita menjadi manusia yang sangat berbeda jauh?!

Bayi seperti kertas kosong yang putih bersih tak berbekas belum ternoda oleh noktah hitam atau merah. Siapapun memandangnya akan merasa sejuk dan hilanglah rasa penat sehabis kerja atau kuliah maupun aktivitas rutinitas keseharian. Kelucuannya, keimut-imutannya, matanya yang jernih, kulitnya yang halus, dan tangisannya yang memecah keheningan malam membangunkan orang tuanya untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kita akan merenungi masa lalu ketika kita masih bayi dan kanak-kanak. Pada waktu itu kita tidak berdaya sama sekali. Kita sangat membutuhkan uluran tangan orang lain yaitu, orang tua kita sendiri! Ketika kita menangis, ibu kita datang tanpa memperdulikan ia sedang apa atau sesibuk apapun. Seketika itu juga, ia menyusui kita dan memeriksa apakah kita pipis atau BAB. Dengan kasih sayangnya kita disusui dan kitapun dibelainya dengan lembut tanpa memperdulikan kesusahan yang dialaminya saat itu. Orang tua kita tidak pernah mengeluh untuk menyusui kita!

Orang tua kita tidak meminta bayaran ketika kita disusui, membersihkan popok, memandikan kita, dan melindungi kita dari sengatan matahari, dinginnya malam, dan dari nyamuk malaria. Saat itu kita menjadi makhluk yang paling egois dan tidak mau tahu kesusahan yang dihadapi oleh orang tua kita. Kita hanya tahu kebutuhan kita terpenuhi.

Kita disusui paling lama dua tahun bahkan lebih. Kita juga terus dibina dan didoakan semoga menjadi anak yang saleh dan saleha. Anak yang cerdas dan taat beragama. Anak yang selalu berbuat baik dan patuh kepada orang tuanya. Anak yang cinta kepada tanah airnya.

Dulu kita masih bayi. Kemudian berkembang menjadi anak sekolah dasar. Naik lagi, anak sekolah menengah pertama. Terus, anak sekolah menengah atas, dan lagi menjadi anak kuliahan, dan seterusnya. Apakah kita masih seperti orang yang tidak memiliki dosa atau menyadari bahwa kita adalah pendosa?

Baik-buruknya kita tergantung oleh bimbingan orang tua. Orang tualah yang menjadikan kita islam yang taat, yahudi, nasrani, atau majusi. Orang tua adalah tangan pertama yang mendidik kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Masa kanak-kanak merupakan masa imitasi atau meniru-niru karena sikap dan pikiran kritis belum berkembang dengan baik.

Ternyata, yang membuat kita manjadi baik atau buruk bukan hanya dari orang tua. Pengaruh itu datang juga dari lingkungan sebaya dan media massa cetak maupun elektronik. Pengaruh media massa saat ini lebih kuat dari orang tua. Maka orang tua yang tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya, siap-siap saja menemui karakter anarkhis dari mereka.

Bagaimana dengan orang tua yang sibuk dan supersibuk? Terserah mereka dan mereka punya otak untuk berpikir bagaimana mengakali untuk membagi waktu antara mengasuh anak dan bekerja. Itu semua tergantung dari kemauan dan tekad yang kuat untuk mendidik generasi yang saleh dan cerdas. Orang tua yang menanam benih baik dan berkualitas akan menikmati hasil yang sama. Sebaliknya, orang tua yang cuek dan putus asa akan menikmati hasil yang sepadan.

Namun saya ingin kita semua mengoreksi diri. Mengoreksi tentang dosa yang selama ini kita lakukan. Padahal dulu kita adalah makhluk tanpa dosa dan lugu. Sekarang kita menemui banyak sekali tantangan dan hambatan. Mari kita mengoreksi diri untuk selalu berbenah diri menjadi pribadi yang paripurna. Kita bukan malaikat yang suci, tapi kita bisa melebihi malaikat. Setiap kejahatan haruslah dibarengi dengan kebaikan bahkan lebih banyak kebaikan ketimbang kejahatan. Diri kita seperti kaca jendela rumah yang bersih dan bening. Seiring bertambahnya waktu, jendela tersebut akan berdebu-debu oleh polusi. Bayangkanlah jendela yang tidak pernah dibersihkan…lama-lama jendela tersebut akan menjadi gelap dan sangat kotor. Jendela yang penuh dengan debu, akan menutupi “cahaya” yang ingin menyinari seisi rumah agar terbebas dari “virus” maupun “bakteri” penyakit. Maka, rajin-rajinlah kita membersihkan jendela tersebut, agar sinar matahari yang cerah bisa memasuki rumah kita.

Sekali-kali maupun seringkali, cobalah untuk menatap seorang bayi ketika mereka tidur di ayunan atau tempat tidur. Terserah, apakah bayi itu anak anda, anak paman atau bibi anda, anak tetangga, anak saudara laki-laki atau perempuan, atau anak yang anda temui di depan rumah anda…perhatikan dan tatap mereka lebih dalam. Setelah itu, cobalah untuk merenunginya sedalam-dalam yang anda mampu. Selamat mencoba dan merenung!


May 13, 2008

Change!


PERUBAHAN DIRI

“HIDUP ANDA AKAN BERUBAH OLEH DIRI ANDA SENDIRI.
JADILAH SEORANG INISIATOR BAGI PERUBAHAN DIRI”
(SHOOT)



Perubahan dalam hidup itu adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat kita hindari atau tolak. Perubahan itu akan datang tanpa permisi dan tidak minta izin. Perubahan itu akan terus terjadi setiap waktu. Permasalahannya adalah apakah kita siap atau tidak menghadapi perubahan tersebut. Atau kita terlambat menyadari bahwa perubahan itu telah terjadi dan saat ini sedang kita alami. Orang yang anti perubahan akan terlindas dan tersingkir dari arena kehidupan. Orang yang pro status quo akan hancur oleh perubah itu sendiri. Pelihannya adalah ikut atau tidak dengan perubahan tersebut. Tentunya setiap pilihan adalah ikut atau tidak dengan perubahan tersebut. Tentunya setiap pilihan terdapat konsekuensi logis yang mesti ditanggung. Jujur saya akui bahwa saya terlambat dalam menyadari maupun menyikapi perubahan yang terjadi disekitar saya. Klimaksnya terjadi saat ini, hari jumat, tanggal 25 januari 2008, pukul 23:49.

Selama ini saya hanya merasakannya tanpa melakukan sesuatu. Kelihatannya saya hanya bertahan dan bertahan. Saya terlena dengan waktu yang terus berlalu tanpa saya sadari bahwa hal itu akan merugikan masa depan saya. Kesadaran ini timbul setelah saya curhat dengan ibunda tentang kondisi keluarga saat ini, dimana telah terjadi perubahan signifikan dari orang-orang terdekat saya. Contohnya saya sendiri yang harus berpisah dengan istri. Kemudian ibu saya yang saat ini berada di yogya dan sudah berlangsung 2 bulan lebih. Sedangkan ayah berada di bengkulu tanpa ada ibu yang melayani dan menemani. Dodo ani tampaknya tergantung sekali dengan keberadaan ibu. Ayah sibuk dengan permainan gaplek sepanjang waktu, dan hanya pulang untuk makan, tidur, dan sholat. abang ahmed berpindah rumah ke semarang karena tugas. jemi tidak bisa ditemani anita selalu, karena sang istri masih kuliah dan hamil juga. Padahal jika gita berada dirumah ayah, rasanya risih sekali, apalagi jika ayah berangkat ke yogya juga. Otomatis hanya saya dan anita plus ditemani oleh sepupunya. Itu artinya saya tidak leluasa bergerak bebas dirumah sendiri. Dan berekspresi sedalam mungkin. Awalnya saya menganggap peristiwa-peristiwa itu sebuah keganjilan dan tidak normal. Namun saya menyadari bahwa itu semua adalah proses perubahan yang terus berlangsung. Artinya saya harus menghadapi semua perubahan tersebut tanpa stress atau berpikir negatif. Saya juga harus berubah, dan sudah seharusnya saya menjadi orang yang menciptakan perubahan tersebut. Hal itu telah terbukti dan saya melakukan namun bukan dengan pemikiran yang matang dan tidak tergesa-gesa. Saya ingin ke depan menjadi aktor perubahan dan harus siap dengan semua akibat-akibat yang ditimbulkan. Cobaan bertubi-tubi yang dialami mas hendri hendaknya dijadikan pelajaran atau teladan agar saya tidak gampang putus asa atau menyerah. Tetapi saya harus bangkit dan terus berjuang sampai ajal atau maut mengambil nyawa ini. So, perubahan…siapa takut!

Optimis dan yakin usaha akan sampai
Saya…saya…saya…yakin bisa!
Hidup hanya sekali, maka jangan biarkan sia-sia
Hidup anugrah Tuhan, maka manfaatkan kehidupan sebagai
Ladang amal saleh…>>>….>>>….>>>…>>>…>>>


May 12, 2008

WAK (yang badannya) BUNGKUK


Obras (obrolan sore) kita kali ini adalah seorang lelaki yang berjasa terhadap lingkunganya. Lelaki ini masih terhitung saudara jauh saya dan tinggal di rumah bibi (adiknya ibu saya). Kebetulan kami berdampingan tempat tinggal. Lelaki ini bernama asli Rusli tetapi lebih populer dengan nama Wak (paman) Bungkuk. Memang, lelaki yang akan saya ceritakan ini sejak kecil memiliki cacat di bagian dada. Bagian dadanya tidak tumbuh secara normal tetapi berkembang atau melebar ke depan dan belakang. Kecacatan tersebut menyebabkan pertumbuhan atau tinggi badan Wak Bungkuk tidak normal (lihat foto). Inilah sedikit deskripsi tentang Wak Bungkuk secara fisik.

Suatu sore, saya dan tetangga terlibat pembicaraan ringan. Biasalah, pembicaraan tentang politik, BBM yang bakal naik, pembangunan propinsi bengkulu, dan sebagainya. Tiba-tiba datanglah Wak Bungkuk dan bergabung dengan kami. Wak Bungkuk pun juga terlihat serius namun diselingi tawanya yang khas terlibat bicara. Kehadiran Wak Bungkuk di dalam pembicaraan kami semakin menambah semarak obrolan sore itu.

“tengoklah Wak Bungkuk ini, semenjak ada di tempat kita, seluruh jalan setapak jadi bagus dan terbebas dari ilalang tinggi yang menyeramkan. Dulu, kalo mau ke (kelurahan) Anggut, kita mesti hati-hati jika ingin melewati jalan setapak di belakang, takut dipatuk ular. Sekarang, kita tidak merasa was-was lagi jika melewati jalan itu.” Inilah sekelumit ucapan pak azwar (biasa dipanggil pak haji) tentang Wak Bungkuk. Mendengar dirinya dibicarakan oleh pak haji, Wak Bungkuk tersenyum tersipu-sipu, namu saya tidak melihat guratan wajah kesombongan walaupun dirinya baru saja dipuji.

Wak Bungkuk ini memang lelaki yang memiliki amal bakti yang banyak bagi warga kelurahan penurunan (Kota Bengkulu), khususnya yang tinggal di RT 10. saya anggap Wak Bungkuk adalah sosok pekerja keras yang melakukan apa saja tanpa dipungut bayaran. Seringkali Wak Bungkuk ini bekerja bukan diperintah atau disuruh-suruh. Wak Bungkuk bekerja berdasarkan inisiatifnya sendiri. Dan dia melakukan semua itu enjoy aja alias tanpa beban. Berkat amal baktinya itu, Wak Bungkuk jadi populer di penurunan. Akibat kepopulerannya itu, Wak Bungkuk sering dimintai untuk melakukan kebersihan dirumah tetangga dengan honor ala kadarnya seperti sebungkus rokok dan air minum (kopi). Namun Wak Bungkuk tidak mengeluh atau komplain dengan pemberian tersebut. Tidak tampak sedikitpun raut wajah kekecewaan atas pemberian tersebut. Walaupun tidak semua orang memberikan upah ala kadarnya, tetapi ada juga yang punya perasaan dan manusiawi.

Saya sendiri, jika punya uang atau sedikit rezeki, insyallah saya berikan ke Wak Bungkuk, walaupun nominalnya atau barangnya jauh dari kata sejahtera. Namun, Wak Bungkuk tetap menerimanya dengan lapangan dada dan mengucapkan terima kasih yang tulus. Beda sekali dengan ucapan terima kasih yang dilakukan oleh anggota dewan kita saat ini (ucapan terima kasih dewan memerlukan embel-embelnya alias duit).

Sampai saat ini, Wak Bungkuk masih membujang alias belum menikah. Ketika saya tanya,”berapa umur Wak sekarang?” selalu saja dijawab 40 tahun. Ketika saya tanya,”tanggal berapa Wak Bungkuk lahir?” jawabannya simpel aja, tidak tahu! Saya tidak mengerti dengan Wak Bungkuk ini, kenapa tidak mau menikah. Apakah memang tidak ada yang suka dengannya karena fisiknya yang cacat? Atau Wak Bungkuk tidak perduli dengan urusan tersebut? Entahlah, setahu saya, belum pernah saya mendengar ada keinginan Wak Bungkuk ingin menikah! Bukan berarti Wak Bungkuk seorang abnormal atau homoseksual. Tetapi seperti itulah adanya. Hari-harinya disibukkan dengan bekerja membersihkan lingkungan dan membaguskan jalanan setapak serta membersihkan rumput yang meninggi.

Melihat kerja keras Wak Bungkuk tanpa pamrih tersebut, saya sempat berpikir untuk membuat sebuah acara penganugrahan atau award bagi dia. Sebuah award yang menjadi pengakuan para tetangga atas amal baktinya terhadap lingkungan sekitarnya. Sampai saat ini saya belum melihat inisiatif dari para tetangga untuk melaksanakannya. Padahal Wak Bungkuk sangat berjasa terhadap mereka. Atau mesti saya yang memprakarsainya?wallahu’alam. yang jelas, Wak Bungkuk wajar dan perlu mendapatkan penghargaan untuk amal baktinya itu, seperti penghargaan KALPATARU!

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari contoh di atas? Banyak sekali, kawan! Sosok Wak Bungkuk dan sifatnya itu perlu sekali dicontoh oleh para pemimpin nasional dan daerah. Para pemimpin yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan para pengusaha, apapun jenis usaha dan skalanya. Orang-orang seperti Wak Bungkuk masih tetap ada sepanjang zaman dan tak pernah hilang. Masalahnya, orang-orang seperti itu jarang sekali terekspos karena mereka bukan selebritis atau pejabat publik. Masalah lainnya, kita jarang bisa mengambil hikmah dari sikap dan perilaku orang “bawah” seperti Wak Bungkuk. Kita kadangkala merasa gengsi atau cenderung sombong karena kedudukan dan harta kekayaan yang kita miliki. Kita menganggap diri kita terhormat dengan wajah cantik/tampan, berpendidikan tinggi, kuliah di kampus elit dan negeri, pakaian bagus dan mahal, orang tua yang berkedudukan tinggi dan mempunyai harta banyak, dan sebagainya. Semua itu menjadi belenggu bagi kita untuk bekerja tanpa pamrih. Uang selalu menjadi ukuran dari pekejaan kita. Jarang sekali kita berpikir bahwa uang hanyalah salah satu penghargaan dan konsekuensi logis dari usaha yang kita lakukan. Uang itu intinya akan datang sendiri jika kita ikhlas!

Wak Bungkuk…engkau memang tidak tampan seperti brad pitt, engkau tidak kaya seperti bill gates atau warren buffet, engkau memang tidak mempunyai jabatan seperti presiden SBY, engkau bukan pengusaha sukses seperti yusuf kalla, dan engkau memang bukan selebritis seperti eko patrio, namun engkau adalah sosok yang dibutuhkan negara ini agar bisa sejahtera dan menjadi bangsa yang kokoh dan kuat! Terima kasih wak bungkuk, engkau telah memberikan kami satu lagi contoh teladan untuk menjadi manusia seutuhnya…

May 06, 2008

Setengah Isi Setengah Kosong


Kalimat di atas muncul di benak saya ketika melihat diri saya tidak maksimal dalam menggeluti suatu pekerjaan atau bidang studi. Sewaktu kuliah saya ingin menjadi pengusaha sukses. Hal ini bkan hanya sebatas keinginan tetapi juga dibarengi dengan aksi. Mulailah saat semester awal saya berjualan atau memasarkan majalah-majalah, buku-buku, kaset-kaset, soevenir atau merchandise islami. Setiap hari, di kampus saya menawarkannya kepada teman-teman yang duduk di sekitar gedung kuliah bersama II. Waktu kosong di sela-sela kuliah saya manfaatkan untuk aksi. Awalnya saya malu-malu. Namun lama-kelamaan karena asyik mendapatkan uang, jadi gak malu lagi, alah bisa karena biasa. Hampir dua tahun saya bergelut di dunia bisnis.

Menginjak semester 4 saya tergoda untuk beraktivitas di organisasi mahasiswa. Saya pikir, dengan bergabung dengan mereka relasi saya semakin luas untuk ekspansi bisnis. Seiring berjalan waktu, perlahan tapi pasti, pikiran di awal tersebut berubah. Bisnis saya tinggalkan dan saya terjun total di dunia aktivis kampus sampai lupa waktu pulang dan makan (kecuali kalo makanannya enak, pasti gak akan lupa). Cukup lama saya beraktivitas di ormawa. Karena kecanduan berorganisasi, saya sampai lupa studi. Jadilah saya sekarang mendapat gelar S2 atau MA (Mahasiswa Abadi)…geleng-geleng kepala jika mengingat sepak terjang saya dulu.

Bored di ormawa, saya mencoba merambah dunia kepenulisan dan ingin menjadi penulis. Hal ini dimulai ketika duduk di semester enam. Ketika itu saya ditunjuk oleh pembantu dekan 3 untuk hadir pada pelatihan metode penulisan karya tulis ilmiah selama satu minggu di universitas (UNIB). Selama seminggu, saya dilatih dan digembleng untuk pandai menulis. Pelatihnya semua adalah doktor (S3) dan master (S2), termasuk dekan fisip sekarang. Saya juga tidak terlalu cemas atau canggung ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini disebabkan sejak dulu saya memang berniat dan berminat menjadi penulis (profesional).
Perlahan tapi pasti, saya mulai mengurangi aktivitas ormawa. Saya lebih banyak terlibat dalam praktek kepenulisan dan membentuk sebuah organisasi kepenulisan. Saya dan beberapa teman mendirikan sebuah unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang tersebut. Namanya PENGEMBANGAN PENALARAN DAN PENELITIAN MAHASISWA (P3M). saat itu saya dipercaya oleh kawan-kawan untuk duduk sebagai seorang ketua umum. Saya pun menerima tugas berat tersebut, mengingat lembaga tersebut masih sangat baru dan sangat sulit untuk mengembangkannya. Tetapi saya yakin, suatu saat P3M akan berkembang dan menjadi lembaga penelitian mahasiswa yang bergengsi suatu saat nanti, waktu akan membuktikannya.

Sepak terjang saya di P3M lebih hebat lagi dibandingkan di ormawa lain. 2/3 tenaga dan pikiran saya dibaktikan untuk lembaga itu. Hampir tiap hari rapat pengurus dan dosen. Melobi dosen dan mempromosikan P3M. ruarrrrr biasaaaa…perjuangan memperkenalkan ke civitas akademika universitas bengkulu. So pasti banyak suka dukanya, guys!

Beberapa tulisan saya dimuat media massa lokal seperti Rakyat Bengkulu dan majalah remaja NEBTUNUS di Jakarta. Beberapa kali juga saya memenangi kompetisi tulisan lokal dan nasional. Lengkap sudah prestasi saya dari bawah sampai tingkat nasional. Lagi-lagi saya mengorbankan diri untuk kemajuan dunia tulis menulis. Jadilah saya bertambah lama dalam studi.

Tetapi setelah dipikirkan lagi, ternyata dunia tulis-menulis tidak dapat memberikan saya “kekayaan” yang banyak. Profesi seperti itu masih belum dihargai dan jauh dari kata kesejahteraan. Benar-benar tidak seimbang dengan jerih payah untuk membuat sebuah karya tulis. Sulit saya mempertahankan dunia tulis menulis, karena saya seorang manusia biasa dan membutuhkan uang juga agar tetap survive. Honor sebagai penulis benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan. Jangan pernah berpikir honor yang saya terima mampu mengganti semua jerih payah saya. Untuk biaya rental dan print-out saja, honor tersebut tidak cukup atau jauh dari memadai. Sungguh tragis, namun seperti itulah yang saya alami. Akhirnya, karena kondisi keuangan yang sangat kritis, saya akhirnya menyerah dan MENINGGALKAN PROFESI PENULIS!

Setelah “pensiun” dari menulis, saya mulai kembali menggeluti dunia wiraswasta namun untuk produk jasa. Jadilah saya bergabung dengan PT Asuransi Takaful Keluarga menjual produk-produk asuransi jiwa dan umum. Selama enam bulan dan hampir setahun saya bergabung dengan mereka. Lagi-lagi saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Akhirnya saya berhenti perlahan-lahan.

Kemudian saya mencoba berbisnis multi level marketing. Produk utama yang saya jual adalah kopi ginseng asli dari korea. Bergabung tidak terlalu lama, omzet penjualan saya meningkat dratis. Namun usaha yang saya lakukan tidak sebanding dengan pendapatan yang saya dapatkan. Tetapi hal itu tidak langsung membuat saya berhenti. Saya mencoba bertahan dengan cara berinovasi dalam memasarkan produk kopi ginseng dan derivasinya. Mulailah saya melakukan pendekatan dengan keluarga dan saya ajak semua keluarga untuk bergabung. Alhamdulillah, semua saudara kandung, kecuali no. 1, bergabung dengan saya. Kemudian adik ibu (bucik) juga bergabung. Penjualan terbanyak saya berasal dari bucik yang tak lain adalah adik ibu sendiri, karena pemasarannya sampai ke bank bengkulu.

Lagi semangat berbisnis MLM, kantor pusat mengalami kekisruhan yang menyebabkan management dirombak total dan mengalami konflik. Konflik itu kemudian merembet ke berbagai cabang yang ada di indonesia. Semenjak itu cabang bengkulu mulai tidak bergairah. Saya juga menjadi terpengaruh dan secara perlahan dan pasti, saya mengundurkan diri dari bisnis ini.

Berhenti dari bisnis MLM, saya bingung menentukan profesi yang akan digeluti. Jadi penulis “gagal”. Bekerja sebagai pegawai swasta, “gagal” juga. Berwiraswasta nasibnya juga sama. Kuliah? Nah ini dia yang mesti diselesaikan. Walaupun rasa malas sudah menggelora untuk meninggalkan kuliah, namun saya tidak tega mengecewakan keluarga yang telah membiayai kuliah saya sejak awal. Maka dengan tekad yang bulat dan dipaksa-paksakan, akhirnya saya kuliah kembali setelah cuti sekian lama.

Mulai detik itu saya menyusun semua keperluan untuk kuliah kembali. Walaupun wajah ini sudah sangat malu untuk kuliah, namun saya tetap menguatkan diri untuk tetap menamatkan studi, apapun yang terjadi!

Dari pengalaman hidup yang saya ceritakan ini, saya ingin menghimbau pembaca. SELESAIKAN SATU MASALAH, BARU SELESAIKAN MASALAH YANG LAIN. Artinya, jika kita sedang kuliah, maka tetap fokus kuliah dan segera selesaikan. Kemudian, SETENGAH ISI DAN SETENGAH KOSONG. Artinya, jika ingin menggeluti suatu profesi, jangan setengah-setengah atau hangat-hangat tahi ayam. Berusahalah untuk menekuni profesi tersebut dan jangan lihat kanan-kiri dalam menekuninya. PAKAILAH KACAMATA KUDA, jangan mudah tergoda dengan profesi lain, yang mana kita tidak mempunyai keahliannya. Disiplinlah dalam bekerja. INGAT, semua pekerjaan jika dilakukan setengah-setengah, maka hasilnya juga setengah-setengah dan tidak optimal. Otomatis yang rugi adalah ANDA! Semoga bisa direnungi…

May 01, 2008

REZEKI TAK TERDUGA


Suatu ketika aku berkunjung ke bank muamalat indonesia cabang bengkulu untuk membuka blokir ATM. Sesampai di sana aku langsung duduk dan menunggu di customer servis. Setelah pelanggan lain selesai, giliran aku ditanya oleh customer service mengenai keperluan aku. Aku pun memberitahukan maksud kedatangan dan Adis (CS) langsung bekerja untuk membuka blokir ATM punya aku. Setelah selesai membuka blokir ATM milik aku, tiba-tiba adis bertanya, “kemaren ikut jalan santai BE, gak?” aku jawab, “Ya. Memangnya ada apa, mbak?” kemudian terjadilah percakapan yang seru diantara kami berdua.


Ternyata, “Ah, yang benar mbak?” kemudian mbak itu mengangguk dengan wajah serius. “kalo memang benar apa yang mbak katakan, wah saya mengucapkan terima kasih. Benar loh mbak, saya gak tahu kalo dapat voucher nginap gratis di Hotel!”

Apabila melihat kronologis kejadian sebelum ke BMI, saya agak ragu mau ke sana karena mau pergi ke kampus untuk mengikuti suatu kegiatan. Namun, hati saya meminta untuk singgah ke BMI, dan memang ADA niat untuk memperbaiki ATM aku yang tidak bisa dipakai. Walaupun bukan saat itu ingin diperbaiki. Namun, entah mengapa aku terdorong untuk singgah sebentar di BMI. Ternyata hal itu ada hikmahnya, yaitu Allah SWT memberikan rezeki via Adis sebagai informan. Jazakallah khairan katsiran. Memang, yang namanya rezeki tidak akan kemana-mana. Rezeki itu datang sendiri, tugas kita adalah hanya menjemput saja dengan berikhtiar kepada Allah, masalah hasil itu hanyalah konsekuensi logis dan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa.